Posted by: Andra Kurniawan | March 31, 2012

Wakil Rakyat Ndas’mu Mlocot!!

Sedang seru bermain FM 2012 di komputer, tiba-tiba konsentrasi saya sedikit terbagi. Bapak saya sedang menonton sidang paripurna di ruang tamu, terdengar ricuh dan ribut. Pikir saya sudah biasa, memang selalu seperti itu, kemudian lanjut bermain kembali. Makin lama sidang makin rusuh, hujan interupsi makin deras, namun saya masih tidak beranjak dari kursi.

Sampai kemudian terdengar suara lantang bernyanyi, “Tak gendong, kemana-mana. Tak gendong, kemana-mana”. Sudah gila! Buat apa orang itu bernyanyi ditengah sidang yang nantinya menentukan apakah harga BBM jadi naik atau tidak? Makin lama sidang paripurna ini makin menjadi lelucon. Saya keluar kamar dan ikut menyaksikan jalannya sidang, tak sampai 10 menit saya masuk lagi ke kamar, cukup dengar suaranya saja.

Hanya dengar suaranya saja sudah cukup membuat kesal, para wakil rakyat yang termulia itu saling berebut untuk bicara, saling menimpali omongan yang belum terselesaikan. Suasananya persis seperti di kelas yang sedang tidak ada guru. Ketua sidang sama sekali tidak dianggap, karena memang mencla mencle. Sedikit bertanya kepada bapak saya, ternyata sidang sempet di skors tanpa waktu yg jelas kemudian di mulai kembali sekitar jam 10. Mereka memperdebatkan opsi-opsi, entah apalah itu, saya tidak mengerti politik. Intinya BBM jadi naik atau tidak. Dan pada akhirnya ketua sidang menginstruksikan untuk (ujung-ujungnya) voting. Sungguh sidang yang sangat tidak efektif, buat apa musyawarah kalau pada akhirnya ditentukan oleh voting?

Eh, hanya tinggal voting saja masih ricuh, malah makin rusuh. Beberapa fraksi masih mengganggap ada hal yang belum jelas dari opsi-opsi yang ditawarkan. Singkat cerita, sidang diperpanjang selama 1 jam, tapi 30 menit dihabiskan hanya untuk voting perpanjangan sidang dengan ricuh. Dan lagi-lagi bapak ketua sidang mencla mencle, sebagai seorang ketua dia punya hak untuk memutuskan, tapi karena sudah tidak adanya wibawa, maka yang ada hanyalah sidang tanpa pimpinan.

Rebutan bicara – Ricuh – Interupsi – Ketua mencoba menenangkan – Dibantah peserta sidang – Rusuh – Teriak Merdeka – Teriak Allahu Akbar – Begitu seterusnya. Sampai pada akhirnya ketika voting dilakukan, 2 Fraksi melakukan aksi walk out. Kalau saya orang Inggris, maka saya akan berkata, “What the fuck?”. Bukan karena 2 fraksi itu walk out di tengah proses voting, tapi karena fraksi lain yang mengolok mereka dengan nada suara yang ngenyek. “Selamat jalan..”, “Anda kalah..”, “Semoga bahagia ya..”, persis seperti seorang anak sekolah yang diejek karena hanya dia yang tidak mempunyai Playstation.

WAKIL RAKYAT NDAS’MU MLOCOT?? Memangnya saya mau diwakili orang-orang tidak tahu aturan seperti kalian?? Memangnya saya mau diwakili bapak-bapak yang bertingkah laku seperti anak-anak?? Memangnya saya mau diwakili orang-orang tidak tahu malu seperti kalian?? Tidak terima kasih, untuk kalian di DPR yang mengaku mewakili kami namun belum tentu untuk kepentingan kami. Saya diwakili oleh diri saya sendiri di negeri yang amburadul ini, memang saya juga belum tentu benar, tapi setidaknya saya tahu saya tidak akan seperti mereka (mudah-mudahan, amin). Dan kalian, mau diwakilkan oleh siapa lagi sekarang?

Posted by: Andra Kurniawan | March 18, 2012

Edukasi Televisi

Seberapa sering kita menonton siaran TV lokal? Saya termasuk yang jarang, mungkin karena rutinitas kantor yang mengharuskan berangkat pagi dan pulang malam. Sampai rumah, badan sudah terlalu lelah, yang ada di pikiran hanya makan dan tidur. Bagaimana ketika akhir pekan tiba? Ya, saya nonton TV, namun hanya untuk pertandingan bola, Moto GP atau F1. Diluar itu, jarang ada acara TV lokal yang membuat saya tertarik untuk menontonnya.

Akhir-akhir ini isi siaran TV lokal kita makin tidak bergizi. Dari pagi sudah dihajar dengan rentetan acara gosip (durasi 30-60 menit), lanjut ke acara musik dengan penonton bayaran yang sebagian besar seharusnya sedang berada di bangku sekolah (durasi sekitar 3 jam), ditambah lagi dengan sinetron pendek siang hari (durasi sekitar 3 jam). Setelah itu otak bisa kembali segar tatkala berita siang muncul di layar kaca, namun sayang durasinya paling lama hanya 1 jam. Setelah itu kembali kita dibuat mabuk dengan acara kriminalitas, sinetron pendek, gosip, dan seterusnya.

Makin naas bagi para pemirsa dirumah, ketika beberapa saluran TV lokal yang secara khusus fokus di ranah berita justru dijadikan alat oleh pemiliknya untuk menjatuhkan lawan politiknya, akibatnya berita yang disajikan terkesan tidak objektif lagi. Mungkin semua ini terjadi karena masing-masing stasiun TV berlomba mengejar rating tanpa ada tanggung jawab yang cukup untuk mengedukasi penontonnya.

Rating membuat sebuah stasiun TV akan melakukan apa saja untuk mendapatkan jumlah penonton sebanyak mungkin. Hal ini menyebabkan pergeseran motif menonton sebuah acara. Ambil contoh, acara masak-memasak biasanya hanya diminati oleh wanita, khususnya ibu-ibu. Tambahkan pembawa acara bertubuh molek dengan pameran belahan dada, bim salabim, niscaya kaum lelaki akan tertarik untuk menonton acara tersebut. Mungkin awalnya bukan untuk mengetahui cara memasak, tapi siapa yang tahu kalau pada akhirnya jadi tertarik untuk menjadi koki? Contoh lain, acara kompetisi musik yang sering mengedepankan kontestan yang sama sekali tidak berbakat menyanyi, namun lucu dan unik (baca: memalukan). Belakangan saya tahu bahwa orang-orang itu memang dibayar untuk berlaku seperti itu, lagi-lagi demi rating. Dampaknya, orang ingin menonton acara itu untuk tertawa, bukan untuk merinding kagum akan kualitas vokal para kontestannya. Jadi sebenarnya ini acara humor atau kompetisi musik? Yang membuat mulut saya makin menganga adalah sebuah acara debat, dimana banyak orang-orang terpandang dari berbagai bidang membahas fenomena hukum dan politik. Namun ketika acara dimulai, yang tersaji adalah sekumpulan anak kecil tanpa pengetahuan yang mumpuni, saling berdebat dengan emosi, bahasa kasar, sampai merunut ke masalah pribadi masing-masing pihak yang beradu mulut. Acara ini disiarkan secara langsung, namun yang membuat saya heran, ketika perdebatan sudah menjurus ke hal-hal yang seharusnya tidak disiarkan, acara tetap dilanjutkan. Logika saya, seharusnya perdebatan langsung dipotong oleh jeda iklan. Namun kemudian saya tersadar, kalau ini hanya acara perdebatan serius tanpa ada bumbu konflik, pastilah orang akan cepat bosan untuk menontonnya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa itu semua hanya skenario dan orang-orang yang saling memaki itu justru berkawan baik. Mengingatkan saya kepada acara WWF Smackdown.

Jika hal-hal seperti ini tetap ada di stasiun TV lokal kita, akan memberi dampak buruk bagi masyarakat khususnya generasi muda. Seperti kita tahu, TV Cable dan internet masih belum bisa dijangkau oleh semua penduduk di Indonesia. Saya asumsikan masih kurangnya minat membaca di Indonesia, maka sarana paling menarik untuk memperoleh informasi dan hiburan adalah TV lokal. Namun masih ada harapan, karena beberapa stasiun TV memiliki acara yang bernilai positif dan membangun, mengenalkan budaya Indonesia dan menginspirasi. Semoga juga makin bertambah acara-acara yang berkualitas dan mengedukasi di stasiun TV lokal. Saran saya, kurangi nonton acara gosip, debat sekedar seru tanpa inti, sinetron, dan sejenisnya. Selain tidak sehat, kalau ratingnya turun, siapa tahu akan diganti dengan acara yang lebih bermutu.

Salam.

Posted by: Andra Kurniawan | February 25, 2012

Happy Pedestrian

Seminggu yang lalu, saya pergi ke Singapore untuk menyaksikan perhelatan Laneway Festival. Tiket pesawat dan konser sudah diamankan dari jauh hari, namun tidak dengan penginapan. Awalnya salah seorang jamaah Laneway dari rombongan kami menawarkan penginapan di apartemen milik kerabatnya, namun ternyata gagal karena beberapa kendala. 2 minggu menjelang keberangkatan seorang teman kembali menawarkan untuk menginap di apartemen milik pacarnya, namun kosong tanpa perabot sama sekali. Saya pikir tak apalah, yang penting ada tempat untuk mandi dan tidur selama kami di Singapore. Semua aman, hati tenang, tinggal bersantai menunggu hari-H.

H-1, tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa apartemen itu tidak bisa digunakan, kandas sudah impian menginap gratis. Maka saya dan beberapa orang teman melakukan gerak cepat mencari penginapan, hostel yang jadi pilihannya, karena murah. Masih diselubungi aura tidak beruntung, semua hostel telah kehabisan tempat tidur untuk disewakan. Tapi nasib baik berpihak kepada 6 orang dari rombongan kami karena bisa menginap di apartemen milik kerabat di daerah Jurong. Tinggal tersisa 4 orang, termasuk saya, yang berangkat tanpa kepastian akan menginap dimana nantinya. Entah kenapa saya merasa santai saja, mungkin karena sudah membawa sleeping bag juga, jadi mau tidur dimanapun sudah siap.

Kami sampai sekitar jam 21.30 waktu Singapore dan akhirnya memutuskan untuk mencari penginapan di daerah Geylang. “Esek2″ bukanlah pertimbangan kenapa kami memilih daerah tersebut, namun karena di Geylang masih ada kehidupan meskipun sudah dini hari. Kami mencoba peruntungan di 2 hostel tapi gagal dan pada akhirnya terpaksa menyewa satu kamar di Hotel 81 untuk 4 orang. Agar tidak dicurigai oleh petugas hotel, 2 orang check in terlebih dahulu dengan membawa semua bawaan kami, sementara 2 orang lainnya masuk belakangan. Karena teman saya harus menebus tiket Laneway malam itu juga, saya menemaninya, dan jadilah kami 2 orang terakhir yang masuk belakangan.

Tujuan kami adalah Marina Bay, saat itu sudah jam 23.30 dimana MRT sudah tidak beroperasi, maka pilihan transportasi hanya ada 2, bis atau taksi. Taksi mungkin terdengar lebih nyaman, namun sayangnya kami berdua adalah cheap bastard, maka bis menjadi pilihan terbaik. Sarana transportasi umum di Singapore sangat memanjakan para penggunanya, semua informasi yang dibutuhkan terangkum dalam sebuah papan pengumuman kecil di dekat pemberhentian bis, mulai dari waktu operasi, rute yang dilalui, hingga tarif perjalanan. Bis kami datang sekitar jam 00.15, di perjalanan saya berbincang tentang MRT yang (saya baru tahu) umurnya sudah 25 tahun! Waow, sungguh hebat sistem perawatan sarana umum di Singapore. Di negara kita, Transjakarta sekarang kembali memakai sistem tiket sobek karena mesin kartu pintu masuknya telah rusak. Bahkan untuk merawat pintu masuk saja tidak bisa, apalagi bis dan sarana lainnya?

Setelah menempuh 15 menit perjalanan, kami turun di halte (entah apa namanya), kemudian berjalan menuju Marina Bay Sands. Pada dasarnya kami berdua memang senang jalan kaki, sembari berolahaga kecil, namun suasana di sekitar membuat jalan kaki makin terasa menyenangkan. Berjalan menyusuri halaman belakang Esplanade, suasana masih sangat hidup meskipun sudah dini hari. Ada yang sedang ber-Fixie ria, ada yang sedang menikmati pemandangan melalui teropong, ada yang sedang bermesraan, bahkan ada seorang ayah yang masih menemani anaknya bermain. Selepas Esplanade, kami menyeberangi Marina Bay Sands Bridge, benar-benar membuat saya takjub.

Desainnya yang unik dengan perhiasan lampu-lampu yang menyala di tengah malam sungguh membuat mulut saya menganga lebar. Tidak jauh dari jembatan ini, kami sampai di lokasi pertemuan, teman saya menebus tiketnya sambil sedikit berbincang, kemudian kami pulang.

Awalnya kami ingin naik taksi untuk kembali ke hotel, namun beruntung Singapore memiliki sarana transportasi bis 24 jam, untuk rentang waktu jam 00.00 sampai 05.00, sebutannya adalah Night Rider. Lagi-lagi, hanya dengan bermodalkan papan pengumuman, kami sudah tahu mana Night Rider yang harus kami naiki. Bis datang setelah kami menunggu kurang lebih 30 menit. Kami naik, penumpang hanya sedikit, namun sama sekali tidak ada perasaan was-was selama di perjalanan hingga kami sampai di hotel.

Pengalaman di negara lain yang lebih maju, selalu saja menuntun kita kepada perbandingan, dengan negara sendiri tentunya. Di negeri kita ini, yang paling bermasalah adalah sistem perawatan sarana transportasinya. Hampir semua transportasi yang ada kondisinya sudah tidak layak pakai. Emisi yang berlebihan, AC yang rusak, ban botak, besi karatan, dan sebagainya. Padahal jika semua transportasi umum berfungsi dengan baik, tepat waktu dan jumlahnya bisa mencakup seluruh pengguna kendaraan, saya yakin para pengguna mobil pribadi mau mencoba untuk memakai sarana transportasi umum sehingga kemacetan dapat dikurangi.

Selain kenyamanan, satu lagi hal penting yang belum bisa didapatkan dari transportasi umum di negara kita adalah keamanan. Sebut saja supir ugal2an, copet, hingga pemerkosaan. Saat ini, kebanyakan orang akan lebih memilih naik taksi jika sudah diatas jam 10 malam. Namun taksi juga tidak sepenuhnya aman disini, hanya sedikit perusahaan taksi yang memiliki reputasi baik, tentunya dengan biaya yang tidak murah juga. Bahkan keamanan sebagai pejalan kaki juga terancam karena sekarang tidak jelas apakah trotoar itu diperuntukkan bagi pejalan kaki atau pengendara motor.

Setelah ini yang ada di Indonesia tetaplah jalanan macet, berdesak di dalam bis, mengeluarkan biaya lebih untuk naik taksi atau berjalan kaki di tempat yang rawan. Semoga suatu saat nanti akan tiba saat dimana kita semua bisa pergi ke kondangan dengan menaiki transportasi umum dan sampai di tempat resepsi tanpa ada make-up luntur atau baju lusuh, amin.

Posted by: Andra Kurniawan | January 15, 2012

Tips Makan di Resepsi Pernikahan

Setiap akhir pekan, pasti setidaknya terdapat 1 acara resepsi pernikahan di Jakarta, dari yang paling sederhana sampai yang paling mewah. Hal pertama yang terlintas dalam benak kita ketika medapatkan undangan resepsi pernikahan adalah “All You Can Eat”. Oke, mungkin tidak melulu makanan yang dipikirkan, tapi juga siapa pasangan yang berbahagia itu. Apakah pasangan itu akan menggelar resepsi pernikahan dengan konsep adat atau internasional? Jadi kita bisa memprediksi makanan apa yang bakal disajikan. Ah, lagi-lagi soal makanan.

Karena saya suka makan, atau mungkin bisa dibilang rakus, jadi saya ingin berbagi beberapa kiat untuk bisa makan sebanyak mungkin di resepsi pernikahan. Langsung saja untuk tipsnya, saya bagi menjadi 2 bagian, yang pertama adalah di rumah:

  • Makan Teratur dan Banyak Minum

Begitu memikirkan “All You Can Eat”, saya yakin anda semua pasti pernah dengan sengaja tidak makan apapun sampai waktu resepsi supaya dapat makan dalam jumlah banyak. Menurut saya ini adalah sebuah mitos yang salah, tidak makan apapun dari siang sampai malam dapat mengakibatkan anda masuk angin. Hal ini akan menutup kemampuan optimal lambung anda dalam menampung makanan karena sebagian ruangan di dalamnya sudah terisi oleh angin. Yang terbaik adalah makan yang teratur, pagi dan siang dengan porsi yang cukup. Minumlah yang banyak, sampai anda merasa cukup untuk tidak minum hingga resepsi pernikahan dimulai.

  • Siapkan Stamina

Kesannya seperti akan menjalani lomba triathlon, namun maksud saya adalah buat kondisi yang paling fit bagi anda untuk datang ke resepsi pernikahan. Jika perlu tidur siang maka tidurlah, atau bagi anda yang biasa tidur pagi dan bangun siang, pastikan bangun siang anda cukup segar dan tidak perlu tidur lagi.

  • Pemilihan Pakaian

Saya sarankan bagi lelaki untuk memakai batik. Kenapa? Karena batik adalah salah satu pakaian formal yang santai. Kita tidak perlu memasukkan bagian bawah batik ke dalam celana, cukup dipakai apa adanya. Bingung ya? Ya gitulah pokoknya, kebayang kan batik itu dipakainya seperti apa? Hindari jas atau atasan yang perlu dimasukkan ke dalam celana kita karena akan membuat perut kita terasa lebih sesak. Selain itu akan ketahuan kalau anda sengaja ingin melongarkan ikat pinggang demi bisa makan lebih banyak lagi. Kalau untuk wanita, saya tidak tahu pemilihan busana yang sesuai, lagipula biasanya wanita menjaga diri untuk tidak makan terlalu banyak, hehe..

Oke, cukup untuk persiapan di rumah, mari kita langsung menuju TKP (Gedung Resepsi), yang perlu anda lakukan adalah sebagai berikut:

  • Datang Lebih Awal

Selain menunjukkan kalau anda adalah pribadi yang sangat menghargai waktu, datang lebih awal akan memberi anda waktu untuk mempelajari struktur gedung resepi dan letak-letak makanan. Biasanya juga, kedua mempelai beserta sebagian besar panitia pernikahan masih bersiap-siap di suatu ruangan khusus, jadi anda dapat lebih leluasa dalam mengobservasi letak makanan. Telusuri sampai ke sudut terpencil, jangan ada yang terlewat. Saya pernah terkecoh di resepsi pernikahan teman saya. Ada satu stand makanan yang letaknya di depan lorong WC, gelap dan berada di luar ruangan resepsi. Saya tidak meneliti stand itu karena malas, namun ternyata itu adalah stand KAMBING GULING! Saya tertipu mentah-mentah dan kehilangan kesempatan untuk menyantapnya, karena ketika saya menyadarinya semua sudah terlambat, “Maaf pak, sudah habis”. Jadi, pastikan anda benar-benar menelusuri semua sudut gedung resepsi.

  • Buat Urutan Makanan

Setelah mengetahui berbagai macam makanan yang disajikan, saatnya membuat daftar urutan makanan dalam kepala anda. Makanlah kambing guling terlebih dahulu, jangan tanya alasannya, kita semua sudah sama-sama tahu. Setelah kambing guling, lanjutkan ke makanan yang ringan, seperti dim sum, siomay, salad, aneka sup atau makanan berkuah. Makanan berkuah hangat akan membantu melicinkan tenggorokan dan memanaskan perut anda untuk hidangan berikutnya. Setelah beberapa makanan pembuka, anda bisa beranjak ke makanan yang lebih berat seperti sate, pasta, barbeque, dan lainnya. Tempatkan nasi sebagai penutup hidangan utama anda, karena nasi bisa sangat mengenyangkan dengan berbagai macam lauknya. Setelah itu sesi makan gratis ini bisa anda akhiri dengan menu penutup seperti es, buah-buahan, puding, dan lainnya.

  • Eksekusi

Setelah berbagai perencanaan di atas, waktunya untuk melakukannya. Ketika iring-iringan pengantin sudah mulai bersiap memasuki ruangan, ambil posisi di dekat stand kambing guling, ini penting. Bisa dipastikan sudah banyak juga muka-muka cabul yang siap menggauli kambing guling itu selain anda. Ikuti prosesi resepsi dengan khidmat, jaga sikap anda tetap terlihat berwibawa, jangan terlihat seperti orang yang belum makan selama 3 hari. Ketika prosesi resepsi selesai dan MC mempersilahkan untuk bersalaman dengan kedua mempelai, langsung saja anda membentuk atau mengikuti antrian di stand kambing guling. Tenang saja, salaman bisa dilakukan terakhir sebelum sesi foto bersama. Jangan khawatir juga anda akan dianggap tidak sopan, itu sudah hal yang wajar, dan saya yakin kedua mempelai juga maklum atau bahkan tidak perduli karena sudah terlalu lelah menjalani proses pernikahan mereka. Setelah kambing guling aman berada di dalam perut anda lanjutkan makan-makan anda sesuai dengan menu yang sudah anda susun sebelumnya. Usahakan jangan minum terlalu banyak ketika proses makan belum selesai, apalagi minuman bersoda, bagi saya hal ini akan menyebabkan anda cepat merasa kenyang. Minum secukupnya ketika anda merasa perlu melumasi tenggorokan anda. Setiap makanan yang ada di resepsi pernikahan biasanya sudah ditakar terlebih dahulu sebelum disajikan, jadi jangan anda meminta lebih dari porsi yang sudah disiapkan. Selain karena anda akan terlihat rakus dimata orang lain, porsi yang diberikan sudah sesuai supaya anda tidak cepat kenyang dan bisa menikmati hidangan lainnya. Ingat, tujuan mulia makan di resepsi pernikahan adalah bisa menikmati seluruh hidangan yang ada dan kenyang dengan bahagia.

Setelah puas menyantap segala jenis makanan yang dihidangkan, anda tinggal menikmati waktu bersama teman, saudara atau kolega anda sembari menunggu sesi foto bersama tiba. Sekian tips dari saya, semoga berguna bagi anda para pecinta makanan di seluruh Indonesia, terutama yang gratis. :D

Posted by: Andra Kurniawan | January 7, 2012

Jaman Bapak Dulu…

Jaman akan terus berubah, membuat kita sebagai manusia yang hidup di aliran jaman harus mengikuti kemana arus jaman membawa. Kita tidak bisa diam ditempat, menolak untuk mengikuti arus atau bahkan melawan balik arus, karena perubahan jaman itu bagaikan arus air terjun niagara yang begitu deras.

Biasanya jaman berubah diiringi dengan perubahan teknologi, trend, bahkan pemerintahan. Cara paling bijak untuk menyikapi semua perubahan ini adalah selektif. Kita boleh mengetahui segala perkembangan dan perubahan yang terjadi, namun harus bisa memilih mana yang baik untuk diterapkan dan sebaliknya.

Belakangan ini saya mencermati perilaku anak dengan kisaran umur 6-14 tahun (SD – SMP) khususnya laki-laki, karena saya akan membandingkan dengan apa yang saya alami pada masa tersebut. Tentunya sekarang sudah menjadi hal yang lumrah jika anak kecil (setara SD) sudah kenal dan bahkan memiliki Facebook, Twitter, Blackberry, iPad, dll. Ya, dari sudut tertentu hal ini terlihat positif karena menandakan bahwa mereka melek teknologi. Namun entah kenapa, saya beranggapan belum waktunya mereka memiliki hasrat untuk hal-hal seperti itu. Anak-anak dalam kisaran umur SD (6-12 tahun) seharusnya masih lugu dan banyak berimajinasi. Ketika saya masih SD, yang sangat saya inginkan adalah robot Megazord Power Ranger, Lego System, konsol permainan seperti Nintendo, Sega dan Playstation. Setiap memainkan mereka (yang notabene milik tetangga karena tidak pernah dibelikan oleh orang tua sendiri) saya berimajinasi tentang skenario apa yang akan dimainkan oleh robot-robot itu, seolah saya adalah sutradara film. Bedakan apabila yang ada di genggaman anak-anak ini adalah Blackberry atau iPad, didalamnya ada Facebook, Twitter dan Browser. 3 hal tersebut sudah cukup untuk membuat mereka menjadi dewasa (sebelum waktunya). Akan sangat baik apabila hal yang mereka dapat dari gerbang dunia maya ini berupa informasi dan berita penting. Sayangnya, di negara kita ini hampir sebagian berita penting adalah Gosip, Korupsi, Kekerasan, Sinetron, dll. Bayangkan bila anak SD membahas masalah Jambul Khatulistiwa, Nikah-Cerai, atau anggota DPR yang nonton film porno disaat sidang? Wow, nggak panteslah jadi anak kecil lagi. Adik-adik, percaya deh, lebih baik kalian nonton Power Ranger, Tom & Jerry, Dragon Ball, Sailor Moon, dan sejenisnya daripada harus tahu berita yang tidak bermutu.

Bicara mengenai perkembangan jaman, tentu salah satu indikatornya adalah makin banyaknya pusat perbelanjaan yang biasa kita sebut dengan Mall. Namun saya juga tidak tahu apakah ini indikator perkembangan jaman yang baik atau tidak. Mari kita hubungkan kembali dengan perilaku anak-anak, kali ini dengan kisaran umur yang lebih panjang (6-15 tahun, setara SD-SMP). Saya pernah naik shuttle bus salah satu komplek perumahan elit di daerah saya. Di dalamnya ada sekitar 6 orang anak yang saya perkirakan masih duduk di bangku SMP, dengan dandanan yang boleh dibilang gaul. Mereka begitu heboh, salah satu diantaranya menerima telepon dan menjawab kalau mereka sudah dijalan menuju PS (Plaza Senayan). Garis finish dari sebuah Mall adalah Konsumtif karena kegiatan utama di Mall selain hang out atau makan adalah Belanja. Masalahnya untuk anak SMP, uang siapa yang mereka pergunakan untuk kegiatan nge-Mall ini? Eng ing eng! Maaf, bukan maksud untuk membandingkan, namun di masa kecil saya, tempat hang out paling diminati adalah lapangan terbuka atau rumah tetangga, yang tentunya cukup bermodalkan baju main saja. Dengan kegiatan seperti sepeda sore, main bola, atau sekedar membaca komik dirumah tetangga, lebih mengajarkan kita nilai penting dibandingkan hanya sekedar belanja. Ambil contoh nilai sopan santun, setiap kali ingin main ke rumah tetangga, pasti kita akan belajar untuk mengucapkan “assalamu alaikum” atau “permisi”, ramah tamah sederhana namun kelak akan menjadi penting. Main bola di lapangan terbuka juga mengajarkan untuk mau bergaul dengan siapa saja, karena semua kalangan warga akan berbaur menjadi satu. Catatan: tidak semua anak sebaya SMP bisa menikmati kemewahan Mall.

Itu hanya beberapa perbandingan yang ada dari kondisi di masyarakat saat ini. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal-hal diatas, mana yang lebih baik juga cenderung subjektif. Ini hanya sebuah fenomena yang ada dan bagaimana cara kita menyikapinya dengan baik. Jujur, jika saya sudah memiliki anak saat ini dan berada dalam kisaran usia tersebut, saya masih bingung untuk menentukan sikap. Bagaimana dengan anda? Kalau saya mungkin akan menjadi seorang orang tua yang akan sering berkata, “Jaman bapak dulu sih……..”

Posted by: Andra Kurniawan | December 24, 2011

Salah Kaprah Twitter

Siapa yang sampai sekarang belum punya akun Twitter? Kayaknya hampir semua orang punya akun Twitter, karena menurut artikel di salah satu media cetak, Indonesia ada di urutan ke-6 pengguna Twitter terbanyak di dunia. Waow, prestasi yang membanggakan bukan?? Bukan ya?? Iya sih, biasa aja..

Sayangnya masih ada salah kaprah dalam penggunaan Twitter di masyarakat kita. Berikut ini beberapa poin salah kaprah Twitter, menurut saya tentunya.

  • Follow Back (Polbek)

Oke, pastinya kalian sudah tahu kalau Twitter itu menggunakan sistem Following & Followers. Kita bebas mem-follow siapa saja yang kita mau, tapi INGAT!! Tidak ada hukum tertulis maupun tidak tertulis yang mewajibkan untuk mem-polbek. Kenapa gitu? Karena nggak ada juga yang mewajibkan untuk mem-follow, meskipun itu adalah seseorang yang dekat dengan kita. Kalau pengen follow ya follow-lah tanpa pamrih. Sayangnya,  masalah polbek2an ini kadang bisa melukai hubungan pertemanan. Jangan terlalu dimasukin ke hati, ini hanya dunia maya, yang lebih penting pastinya dunia nyata.

  • Retweet (RT) & Reply to

Gini ya, RT itu pada dasarnya berfungsi untuk menyampaikan informasi/cerita yang menurut kalian menarik kepada followers kalian secara utuh atau dengan dibubuhi komentar. Jadi teman2, jangan lagi ya menggunakan RT untuk bales2an tweet (ngobrol) dengan teman kalian, bikin timeline jadi penuh akan obrolan kalian. Bagus kalau ngobrolnya tentang peluang bisnis kelapa sawit. Lha, kalau lagi ngobrolin panu di pantat, apa nggak malu?? Gunakanlah Reply to, karena fitur ini mencegah obrolan via Twitter ini muncul di timeline, kecuali jika kita mem-follow orang2 yang terlibat dalam obrolan tersebut.

  • Twitlonger, TMI dan Aplikasi Sejenis Lainnya

Terkutuklah kau wahai penemu fitur ini, merusak kesakralan nge-tweet! Konsep Twitter adalah Microblogging, jadi memang hanya terbatas untuk 140 karakter saja. Ketika anda harus berpikir untuk menumpahkan isi pikiran anda kedalam 140 karakter saja, disitulah letak seni nge-tweet. Lagipula penggunaan twitlonger tidak efektif karena untuk membacanya kita harus membuka link terlebih dahulu. Selain itu, penggunaan twitlonger akan menyebabkan mention tidak ter-notifikasi.

  • Hashtag

Hashtag biasanya digunakan untuk menandakan suatu tema dari tweet kita. Misal hashtag #HidupSehat, menjelaskan bahwa tema dari tweet kita adalah tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pola hidup sehat. Yang harus dihindari penggunaan hashtag yang berlebihan dalam satu tweet, misal “Minum air putih 6 liter sehari. #HidupSehat #GerakanMinumAirPutih #NoAlcohol #6liter=6.000ml” Alangkah baiknya jika kita bisa fokus pada satu tema untuk setiap penggunaan hashtag.

  • Twitter bukan Diary

Oke, Twitter memang milik pribadi, hak si pemilik akun untuk meluapkan apa saja didalamnya. Tapi Twitter bukan buku harian dimana yang tahu isinya hanya Tuhan, kamu dan orang yang sengaja/gak sengaja baca buku harian kamu. Cobalah untuk tidak mengumbar hal2 yang sifatnya sangat pribadi lewat Twitter, ingat lho kalian punya sejumlah followers yang selalu mengetahui isi tweet kalian.

Kayaknya sih itu beberapa salah kaprah penggunaan Twitter, menurut saya lho.. Kalau nggak seperti poin2 yang saya sebutkan juga tetep sah kok buat nge-tweet, hehe..

Selamat tuwat tuwit kembali, mari..

Posted by: Andra Kurniawan | November 6, 2011

Bangga Berbahasa Indonesia

Tanggal 28 Oktober yang lalu, kita memperingati Sumpah Pemuda. Pada sumpah yang ketiga tertulis, “Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”. Nah, apakah sumpah tersebut masih relevan sampai saat ini? Mari kita cermati bersama.

Menurut saya, terdapat 4 kecenderungan berbahasa di dalam masyarakat kita saat ini:

  • Bahasa Indonesia

Ini adalah kecenderungan berbahasa yang normal, karena memang ini adalah bahasa resmi negara kita. Saya yakin sebagian besar dari kita pasti bisa berbahasa indonesia dengan baik, namun belum tentu benar. Kenapa belum tentu benar, karena bahasa indonesia yang sering digunakan adalah bahasa Indonesia yang tidak baku (slang), seperti gw; elo; udah; dll. Tapi hal ini masih terdengar wajar karena pembicaraan akan terasa sangat kaku apabila menggunakan bahasa baku. Bayangkan percakapan 2 orang teman yang sedang membahas pertandingan bola

A   :     Apakah kamu melihat pertandingan arsenal vs west brom tadi malam?

B   :     Ya, aku melihatnya. Permainan tim arsenal semakin membaik dan RvP berhasil menjadi pencetak gol terbanyak liga inggris sementara ini.

A   :     Benar sekali, mari kita tetap mendukung arsenal dan berharap supaya permainan mereka makin padu.

B   :     Hidup arsenal!

Lebih terkesan seperti dialog sinetron daripada percakapan antar teman ya? Oleh karena itu penggunaan bahasa Indonesia slang bisa dimaklumi selama penggunaannya sesuai dengan lawan bicara kita.

  • Bahasa Daerah

Indonesia terdiri dari banyak suku dengan keberagaman budayanya. Masing-masing suku memiliki bahasanya sendiri dengan logatnya yang khas. Tentunya hal ini merupakan kekayaan budaya kita yang harus selalu dijaga. Saya pribadi sangat suka ketika berkunjung ke suatu daerah dan mendengarkan percakapan masyarakat dengan bahasa daerahnya. Kecenderungan bahasa daerah ini bisa kita jumpai dimana saja, namun yang paling terasa adalah di Jakarta. Seperti kita ketahui, Jakarta masih bercitra sebagai lumbung pekerjaan yang membuat banyak orang dari daerah merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Bahasa yang lazim digunakan di Jakarta tentunya adalah bahasa Indonesia, namun ketika beberapa orang yang berasal dari daerah yang sama bertemu, maka akan ada kecenderungan untuk berbicara dalam bahasa daerahnya. Hal ini sangat alamiah karena bagi orang yang lahir di luar Jakarta, bahasa ibu mereka adalah bahasa daerah mereka masing-masing. Ikatan kedaerahan juga menjadi faktor untuk berbicara dalam bahasa daerah karena setidaknya membuat mereka seperti berada di kampung halamannya. Kecenderungan bahasa daerah ini juga bisa dimaklumi selama percakapan tidak mencakup lingkup luas dimana ada orang lain yang bukan berasal dari daerah yang sama.

  • Full Nginggris

Ini adalah istilah yang saya ciptakan untuk orang-orang yang merupakan WNI, lahir dan besar di Indonesia, tapi ketika berbicara dengan sesama orang Indonesia menggunakan bahasa inggris. Saya pernah berkenalan dengan seseorang dan ketika berjabat tangan dia berkata “Nice to meet you”. Selang beberapa menit kemudian, dia dipanggil oleh seseorang yang lebih tua dan menjawab “Dalem”. Oh, ternyata orang jawa. Yang membuat saya heran, kenapa harus menggunakan bahasa inggris ketika berkenalan? Memang, “nice to meet you” terdengar lebih praktis dibandingkan dengan “senang berkenalan dengan anda”, tapi setidaknya cukup berkenalan dengan mengucap “Halo, saya (gw) andra” dan dibalas dengan “Hai, saya (gw) joko”. Setelah berkenalan dan bercakap-cakap, ternyata dia sempat kuliah di luar negeri. Tapi semudah itukah bahasa Indonesia atau bahasa ibunya luntur oleh bahasa inggris?

Cerita diatas buat saya masih belum seberapa, karena setelah itu percakapan kami berlanjut menggunakan bahasa Indonesia. Ada lagi orang yang menelepon teman saya, secara sadar mengetahui kalau teman saya merupakan WNI asli, namun menggunakan bahasa inggris dalam berdialog. Beberapa orang yang saya temui juga sering menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya, tentunya WNI asli. Oke, bisa berbahasa inggris memang penting saat ini, tapi sebaiknya jika anda orang Indonesia asli, pergunakanlah bahasa Indonesia dalam keseharian anda. Saya curiga ada anggapan bahwa menggunakan bahasa inggris itu akan membuat terlihat keren. Jika diimbangi dengan pengetahuan berbahasa inggris yang baik dan benar maka tidak menjadi masalah.

Namun terkadang banyak orang yang memaksakan berbahasa inggris dengan kemampuan yang terbatas. Hasilnya sering kita jumpai di jejaring sosial, seperti Facebook atau Twitter. Suatu hari di timeline twitter saya muncul tulisan “Playing with fire, lalala..”. Sejenak saya berpikir, ini orang lagi main debus atau lagi latihan jadi petugas pemadam kebakaran ya? Lalu menelisik dari latar belakang si pembuat status, saya langsung mengetahui bahwa yang dimaksud olehnya adalah “bermain dengan api”. Sambil tersenyum simpul saya berkata dalam hati, ada ungkapan dalam bahasa Indonesia yang tidak bisa diterjemahkan secara harafiah ke dalam bahasa inggris. Selang beberapa hari muncul lagi status “i’ll do it anything you ask”. Merasa ada yang janggal? Untuk menghindari hal seperti ini, tentu lebih bijak jika kita menggunakan bahasa Indonesia.

  • Semi Nginggris

Ini adalah kecenderungan berbahasa yang menurut saya paling menghibur. Saya katakan menghibur karena jika didengarkan bisa membuat kita tersenyum. Semi Nginggris adalah istilah yang saya gunakan untuk orang yang sering mencampur kosakata bahasa inggris dalam kalimat bahasa Indonesia. Jika anda berangkat ke kantor menggunakan angkutan umum, pasti setidaknya pernah menemui kejadian dimana seseorang menerima telepon kemudian dia berkata “Halo, aku masih on the way nih, ntar kalo udah sampai office aku call back deh ya”. Kurang menghibur? Bagaimana dengan yang ini, “I’m so boring, dirumah gw mati lampu, udah gitu lagi ada sohib kakak gw, which is dia mantan gw gitu. Pergi kemana yuk gitu, gw butuh sesuatu yang entertain nih”. Yah, itulah yang terjadi apabila Semi Nginggris dikombinasikan dengan kurangnya pengetahuan berbahasa inggris.

Tahun 1928, pemuda pemudi dari berbagai suku bersatu, dengan tetap menjaga warisan bahasa ibu dari masing-masing suku, Bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa nasional. Adalah hal yang baik jika kita menguasai bahasa lain, namun akan lebih baik lagi jika kita bangga menggunakan Bahasa Indonesia di tanah air kita ini. Salam.

Posted by: Andra Kurniawan | August 17, 2011

Selamat Ulang Tahun Nenek

Hari ini Indonesia merayakan ulang tahun yang ke 66. Kalau memakai tolak ukur umur manusia, usia 66 tahun sudah terbilang tua. Indonesia sering kita sebut dengan nama “Ibu Pertiwi”, jadi mungkin saat ini Indonesia sudah menjadi seorang nenek. Seorang nenek yang seharusnya sedang menikmati masa tua dengan keluarga besarnya.

Apakah sang nenek bahagia di usia ke 66 ini? Rasanya masih jauh dari kondisi bahagia, bahkan untuk tersenyum saja sulit.

Maaf ya nek, disaat nenek tetangga dan lainnya makin bertambah anggun di usia tuanya, engkau malah terlihat kucel. Kucel karena kami, cucu dan cicitmu tidak merawat engkau dengan baik.

Anggota tubuhmu tidaklah selengkap dulu lagi, satu persatu lepas, entah salah siapa?

Warisan budayamu tidak kami jaga dengan baik, alhasil di klaim oleh nenek tetangga. Sementara kami, cucu dan cicitmu, hanya bisa teriak maling dengan lantang, mengobarkan api kebencian, padahal merawat dan melestarikan budayamu saja kami tidak selalu ingat.

Keanekaragaman yang kau berikan, malah kami jadikan alasan untuk bertikai, menyakiti sesama, membuat batasan keras dengan nama “mayoritas” dan “minoritas”. Padahal seharusnya itu kami pupuk, sehingga di usia tuamu ini, engkau makin terlihat mempesona dengan warna-warnimu.

Banyak cucu dan cicitmu yang berlomba untuk bisa merawatmu, mengumbar janji bahwa mereka akan melakukan yang terbaik untuk dirimu serta cucu-cicitmu lainnya. Nyatanya, mereka hanya ingin menguras kekayaan nenek untuk kepentingan pribadi dan golongan. Sedihnya, setelah merasa puas (atau menjadi target penangkapan), mereka justru pindah kepada nenek tetangga, lalu hidup tenang. Sungguh pengkhianatan yang menyakitkan.

Tubuhmu juga sering kami sakiti, melalui perilaku kami yang susah sekali menjaga kebersihan dirimu. Padahal, kebersihan itu pangkal kesehatan.

Semua kacau, semua ruwet, sampai setiap kali saya berkumpul dengan teman-teman, terpikir untuk mencari suaka ke nenek lainnya. Ah, maaf ya nek.

Tapi nek, ternyata saya masih belum bisa meninggalkanmu, dan semoga tidak akan pernah.

Saya selalu suka akan resep-resep makanan nenek yang beraneka ragam, setidaknya itu hal sederhana yang bakal membuat saya kangen selalu dengan nenek.

Saya kagum dengan keramahan yang nenek wariskan.

Saya masih ingin menggali, menjaga dan merawat keragaman budaya yang nenek titipkan.

Lebih dari itu, nenek masih punya potensi yang luar biasa melimpah, nenek masih bisa bangkit lagi mengungguli nenek lainnya, saya percaya itu.

Sekarang yang bisa saya (kita) lakukan, hanyalah berusaha menjadi cucu-cicitmu yang lebih baik lagi dalam merawat dan mempercantik dirimu, melalui banyak aksi nyata di berbagai bidang yang bisa kami lakukan.

Oleh karena itu, sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun yang ke 66 nek, panjang umur, makin mempesona dan menjadi bahagia selalu.

Dirgahayu!

Posted by: Andra Kurniawan | August 3, 2011

Mrs. Cole

Beberapa hari yang lalu ibu saya terkena musibah, sehingga beliau terpaksa dirawat di rumah sakit. Sudah 3 hari ini saya tidak berjumpa dengan ibu saya, rindu rasanya. Meskipun ketika di rumah selalu saja kami bertengkar karena permasalahan kecil, yaitu kamar berantakan.

Yah, pokoknya saya kangen ibu saya, ini ada sedikit cerita tentang beliau.

Ceritanya itu ketika saya kelas duduk di bangku SMA, antara kelas 1 atau 2. Jadi, saya yang pertama kali punya handphone di keluarga saya. Sisa anggota keluarga saya tergolong gaptek (bukan gatal pada ketek, tapi gagap teknologi). Suatu pagi, ketika saya sedang mandi, handphone saya berbunyi, dan inilah percakapan antara saya dengan ibu;

Ibu : Mas, handphone mu iki lho muni terus (Mas, handphone mu bunyi terus).

Saya : Yauda, tolong dijawab aja bu.

Ibu : Piye cara’ne?? (Gimana caranya??)

Saya : Pencet tombol yang warna hijau bu.

Ibu : Sing neng nduwur iki? Sing ijo toh? (Yang diatas ini? Yang hijau kan?)

Saya : Iya, buruan angkat bu.

(Dering handphone hilang, suasana hening)

Saya : Siapa bu yang telepon? (Meskipun sebenernya tidak terdengar percakapan)

Ibu : Ehm, seko.. (Ehm, dari.. *Ibu saya seperti sedang berusaha membaca)

Saya : Siapa bu?

Ibu : Seko mrs cole mas, guru boso inggris mu yoo??

Saya : ………….

Kalian sudah tahu apa yang sebenarnya dibaca oleh ibu saya??

YAK BENAR!! Ibu saya membaca tulisan “missed call”, dimana dia mengira missed itu adalah panggilan untuk wanita (miss) dalam bahasa inggris. Dan sayapun hanya bisa berkata, “Yauda, taruh aja handphonenya bu, makasi ya”.

Itulah ibu saya, wanita asli kelahiran Klaten yang super lugu dan gaptek.

Cepat sembuh ibu, cepat pulang, anakmu terlantar tiap hari makan pop mie :(

 

Posted by: Andra Kurniawan | July 31, 2011

BM

Apakah BM?

-Banyak Mau? Seringnya sih saya begitu, tapi sekarang lagi nggak.

-Bank Mandiri? Saya pelanggan BCA.

-Bang Mandra? Si doel udah tamat.

-Broadcast Message? Nah ini dia nih, yuk kita menuju TKP gan!

Besok sudah bulan puasa, biasanya bagi para pengguna blackberry, sudah saatnya bersiap atas rentetan BM permohonan maaf dan selamat menunaikan ibadah puasa. Menjelang hari raya lainnya juga sering kita jumpai rentetan BM ucapan tersebut. Teknologi BM ini memang sangat memudahkan kita untuk mengirimkan ucapan-ucapan, tinggal ketik ucapannya (atau bahkan copy/paste dari pesan lain), pilih orang yang ingin dikirimi ucapan, tekan send, dan siap-siap menerima BM serupa. Tidak ada yang salah dengan hal ini, hanya saja saya kurang suka ucapan BM, mengurangi kesan keintiman antar pribadi yang saling mengucapkan. BM pada umumnya akan bertuliskan seperti ini, “Teman-teman, selamat bla bla bla yaa, semoga bla bla bla”. Tidak mungkin ada BM yang berbunyi “Dear, ujang, jaja, asep, neni, waskito, sumiyem, dll, selamat ya udah lulus kursus sempoa” Sebenarnya bisa saja nama teman-teman ditulis satu persatu, tapi kalau temannya ada 300 orang, apa iya akan ditulis semua?

Saya lebih suka pesan yang singkat namun ditujukan secara pribadi untuk saya, seperti “Ndra, selamat natal ya”. Buat saya itu jauh lebih bermakna, karena membuat saya merasa dihargai sebagai seorang Andra, sebagai pribadi yang kenal baik dengan si pengirim pesan. Memang mengirim pesan/ucapan ke tiap kontak itu merepotkan, tapi kalau dipikir juga sebelum ada teknologi BM, kita dulu mengirim pesan melalui sms, yang mana juga harus kita kirim perorangan (asumsi saya jaman dulu juga belum banyak handphone yang menyediakan fitur send to many).

Dulu saya juga sempat memakai blackberry, dan bisa saya pastikan saya tidak pernah mengucapkan sesuatu menggunakan BM. Saya ingat, saya mengucapkan selamat lebaran ke salah satu teman saya, dan dia membalas “Wah ndra, lo ngucapin khusus buat gw nih? Thanks ya” Saya menganggap itu sebagai respon positif, dimana saya mengucapkan selamat lebaran kepadanya bukan sekedar untuk “teman-teman”. Siapa saja bisa kita berikan label sebagai teman, tapi siapa dia? BM hanya saya gunakan untuk mengingatkan sesuatu kepada teman-teman saya, misalnya “Guys, jangan lupa kita besok ada panjat pinang bareng, jangan lupa bawa oli nya harus castrol ya, biar gaya dikit”

Jadi setelah ini apakah masih ada BM? Pasti masih, hehe.. Sekali lagi saya tidak bilang ini salah, itu kembali kepada anda masing-masing, ini masalah selera saja, haha..

Selamat berpuasa bagi teman-teman yang melaksanakan, semoga lancar :D

*Ups, ini dikategorikan sebagai BM bukan ya?? :p

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.